5G rasa 4G dan 4G pun serasa 3G, jika saya melihat untuk operator yang ada di indonesia untuk 5G masih menggunakan infrastruktur NSA atau Non Stand Alone yang dimana 5G ini adalah 4G yang diperbanyak dengan antena MIMO sehingga bukan 5G tipe Stand Alone yang berdiri sendiri sehingga kecepatannya hampir sama dengan 4G, begitupun sebaliknya 4G pun bisa kencang kalau ponsel mendukung dual CA alias dual carrier aggregation semisal disatu tempat ada Band 1800MHz dan Band 2300MHz berjalan bersamaan dan ponsel mendukung itu untuk digabung maka kecepatan bisa lebih kencang yang mana umumnya jika tidak support maka akan memilih salah satu saja apakah 1800MHz atau 2300MHz
Untuk kecepatan sebenarnya tidak jadi masalah, yang bermasalah adalah sinyal, 4G dan 5G ini tidak memiliki sinyal sebaik 3G walau kenyataannya frekuensi 3G dipakai namun karena semua spektrum dipakai maka jadi berantakkan 900MHz, 1800MHz, 2100MHz dan 2300MHz dipakai semua oleh 4G sehingga ponsel tidak memiliki standar memilih yang mana, ada yang sinyal bagus tapi jalan internetnya terlampau lambat ada yang sinyalnya lemah tapi kencang namun boros baterai dan sering loncat antar frekuensi bikin 4G bermasalah
Jadi 3G sudah paling ideal kalau menurut saya tidak perlu ada 4G untuk seluler karena sebagaimana postingan sebelumnya bahwa belum ada server internet yang tidak bottleneck, 21Mbps per pengguna saja jika bisa diterapkan sudah sangat bagus ketimbang 4G yang katanya bisa 100Mbps namun realita lapangannya cuma berkisar antara 10-30Mbps saja jadi sama saja rasa 3G