Saturday, July 12, 2025

Pro Kontra Hanya Subjektif Belaka

Kali ini saya berbicara pro kontra memang lebih kearah sudut pandang subjektif bukan objektif, sebagai contoh jika saya tidak suka pertamina karena unsur pemerintah maka tidak objektif karena pertamina adalah stasiun pom bensin terbanyak juga termurah jika saya pakai subsidinya begitu juga dengan telkomsel misalnya, namun saya bukan berfokus ke pembahasan kontra terhadap pemerintah melainkan lebih kepada isu ringan saja dalam kehidupan bermasyarakat

Semisal jika tiba-tiba seseorang membicarakan keburukan orang hanya karena sesuatu itu tampak faktual yang diceritakan oleh orang lain, hal semacam itu belum faktual jika belum mengkonfirmasikan terhadap orang yang dimaksud sehingga tampak fiksi, juga semisal rocky gerung yang dulu mengatakan kitab suci adalah fiksi lalu salah? tentu tidak

Fiksi karena belum terjadi saat ini namun faktual jika sudah tiba masanya, begitulah logika berfikir, maka terkadang saya enggan buka whatsapp atau sosial media selain memang tidak dipakai, juga tidak ingin melihat sebuah konten hanya berdasarkan subjek algoritma terhadap apa yang kita sukai lalu objektif? tidak, saya sudah banyak mempelajari tentang hal di masyarakat yang memang sifatnya hanya subjektif bukan objektif, objektif jika ada keduanya, ketika kita kontra maka dimana nilai pronya?